Pages

Minggu, 19 Juni 2016

Esay "Motivasi Kerja Mahasiswa Jurusan Akuntansi Setelah Mempelajari Bidang-Bidang Akuntansi"

Motivasi Kerja Mahasiswa Jurusan Akuntansi Setelah Mempelajari Bidang-Bidang Akuntansi

Akuntansi merupakan salah satu jurusan di  Fakultas  Ekonomi  yang  banyak  diminati oleh mahasiswa saat ini. Dari hasil penelitian Basuki,  1999  (dalam  Ariani,  2004) menyebutkan  bahwa  rata-rata  mahasiswa memilih  jurusan  akuntansi,  didorong  oleh keinginan mereka untuk menjadi profesional di  bidang akuntansi, selain itu  mereka  juga termotivasi oleh anggapan bahwa akuntan dimasa  mendatang  akan  sangat  dibutuhkan oleh  banyak  organisasi  dan  perusahaan, khususnya  di  Indonesia.  Menurut  Sundem (1993) dalam  Machfoed  (1998:110) pendidikan  akuntansi  harus  menghasilkan akuntan  yang  profesional  dan  siap menghadapi persaingan global.
setelah menjalani perkuliahan seseorang lulusan jurusan akuntansi diharapkan memiliki kemampuan keterampilan intelektual, keterampilan teknik dan fungsional, keterampilan personal, keterampilan interpersonal dan komunikasi dan keterampilan keorganisasian dan manajemen bisnis. Seseorang lulusan jurursan akuntansi harus bersikap berdasarkan nilai dan perilaku yang mengarah kepada komitmen untuk kepentingan publik dan sensitifitas terhadap tanggung jawab sosial, pengembangan diri dan belajar terus menerus, dapat diandalkan, bertanggung jawab, tepat waktu dan saling menghargai, hukum dan peraturan yang berlaku.
Sebagian besar lulusan dari jurusan akuntansi mengejar karir sebagai seorang Akuntan. Akan tetaoi, dikarenakan jurusan ini mencakup bidang studi yang luas seperti  struktur bisnis, hukum dan ilmu ekonomi, maka tidak jarang para lulusan dari jurusan akuntansi juga diterima bekerja dibidang manajemen lainnya. Dikarenakan para mahasiswa  jurusan akuntansi dituntut untuk menguasai cara mengolah data-data keuangan semasa kuliah, maka banyak juga para lulusan yang diterima bekerja dibidang perbankan. Misalnya bekerja sebagai penasihat keuangan dibank. Alternatif lainnya adalah bekerja sebegai penganalisa resiko dalam perusahaan-perusahaan asuransi. Masih ada banyak lagi pilihan-pilihan bagi para lulusan jurusan akuntansi. Misalnya bekerja pada organisasi non profit. Para lulusan bisa menulis proposal untuk meminta pendanaan ataupun membuat permohonan hibah. Seandainya para lulusan memilih untuk mengejar karir diluar bidang akuntansi, mereka juga bisa menemukan pekerjaan yang sesuai dibidang Penjualan, Marketing, Periklanan, Hukum dan bahkan dibidang Jurnalisme.

Sumber :

Tulisan Ini Adalah Salah Satu Bentuk Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Internasional

Nama        : Saraswati Diana
Dosen       : Jessica Barus, S.E., Mmsi.

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI





Analisis Jurnal 3

Analisis Jurnal 3
Topik/Tema                 : Konvergensi IFRS
Judul                             : Peluang Manajemen Laba Pasca Konvergensi IFRS: Sebuah Tinjauan Teoritis dan Empiris
Nama Penulis/Peneliti : Ari Dewi Cahyati
Ringkasan                   :
Di era globalisasi yang ditandai dengan banyak munculnya perusahaan multinasional kebutuhan akan standar akuntansi internasional memang mutlak diperlukan. Pelaporan keuangan transnasional mensyaratkan perusahaan harus memahami praktik akuntansi ditempat perusahaan tersebut berkedudukan. Ketika dunia bisnis dapat dikatakan hampir tanpa batas negara, sumber daya produksi (misal uang) yang dimiliki oleh seorang investor di satu negara tertentu dapat dipindahkan dengan mudah dan cepat ke negara misalnya melalui mekanisme bursa saham. Tentu saja akan timbul suatu masalah ketika standar akuntansi yang dipakai di negara tersebut berbeda dengan standar akuntansi yang dipakai di negara lain. Investor dan kreditor serta calon investor dan calon kreditor akan menemui banyak kesulitan dalam memahami laporan keuangan yang disajikan dengan standar yang berbeda-beda. Hal tersebut diatas yang mendorong timbulnya standar akuntansi internasional (IFRS) yang dirumuskan oleh IASB (International Accounting Standard Board). Sedangkan dari sisi akuntansi diharapkan akan meningkatkan kualitas pelaporan keuangan dengan meningkatnya komparabilitas laporan keuangan, dan transparansi bagi para pengguna salah satunya mengurangi manajemen laba. Metode yang digunakan adalah kualitatif.  Beberapa argument yang melatarbelankangi konvergensi ke IFRS adalah bahwa Perbedaan standar akuntansi akan menjadi hambatan investasi antar Negara, ketika terdapat keseragaman standar akuntansi maka investor di Negara lain akan memudahkan investor/calon investor, kreditur/calon kreditur memahami laporan keuangan perusahaan. Dari sisi akuntansi akan konvergensi ke IFRS meningkatkan kualitas pelaporan laporan keuangan ke pasar modal. Studi-studi empiris sebelumnya menyatakan bahwa adopsi IFRS secara mandatory berkaitan dengan likuiditas pasar dan penurunan biaya modal (cost of capital) perusahaan. Selain itu penggunaan praktik akuntansi yang sama di berbagai negara akan memudahkan investor dalam mendeteksi manajemen laba. Ewert dan Wagenhof (2005) menyatakan bahwa standar akuntansi yang semakin ketat dapat menurunkan manajemen laba dan meningkatkan kualitas pelaporan keuangan. Webster dan Thompson (2005) menguji kualitas laba dari perusahaan kanada yang terdaftar di Bursa Efek Kanada dan Amerika dimana perusahaan Kanada yang menggunakan standar akuntansi yang principal based mempunyai kualitas akrual yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan Amerika yang US GAAP yang rules based. Barth et.al (2008) menemukan bahwa perusahaan yang menggunakan standar akuntansi keuangan internasional menunjukkan tingkan perataan laba dan manajemen laba dan mempunyai korelasi yang tinggi antara laba akuntansi dan harga saham dan return. Lantto (2007) meneliti apakah IFRS menaikkan kegunaan informasi akuntansi di Finlandia, dengan melakukan survey pada manajer, analis laporan keuangan dan auditor hasil penelitian menyatakan bahwa baik auditor, manajer dan analis berpendapat bahwa laporan keuangan yang disusun berdasarkan IFRS dapat diandalkan.dan relevan. Konvergensi ke IFRS diharapkan akan membawa dampak positif diantaranya. Dari sisi ekonomi adalah dengan adanya standar yang seragam maka akan mengurangi hambatan investasi lintas Negara dan dari sisi akuntansi adalah meningkatnya kualitas laporan keuangan. Hal sejalan dengan tujuan konvergensi IFRS adalah menjadikan laporan keuangan menghasilkan informasi yang valid untuk aset, hutang, ekuitas, pendapatan dan beban perusahaan, meningkatkan komparabilitas laporan keuangan, menyajikan informasi yang relevan dan reliable serta dapat dimengerti, dan laporan keuangan dapat diterima secara global. Standar IFRS yang berbasis prinsip, lebih condong pada penggunaan nilai wajar, dan pengungkapan yang lebih banyak dan rinci diharapkan dapat mengurangi manajemen laba. Jadi secara teoritis konvergensi IFRS diharapkan mengurangi manajemen laba yang dilakukan perusahaan.

Ø  JRAK Vol.2 No.1 Januari 2011, Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi UNISMA

Tulisan Ini Adalah Salah Satu Bentuk Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Internasional

Nama        : Saraswati Diana
Dosen       : Jessica Barus, S.E., Mmsi.

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI



Sabtu, 18 Juni 2016

Analisis Jurnal 2

Analisis Jurnal 2
Topik/Tema                 : IFRS, U.S. GAAP, dan PSAK
Judul                           : Perbedaan IFRS, U.S. GAAP, dan PSAK : Invesment Property
Nama Penulis/Peneliti : Nunik L.D.
Ringkasan                   :

 Akuntansi merupakan suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan dan pelaporan mengenai transaksi (kejadian ekonomi dan keuangan) suatu organisasi, baik organisasi profit maupun non profit untuk menghasilkan informasi yang akan digunakan dalam pengambilan keputusan oleh pihak internal maupun pihak eksternal organisasi. Oleh karena itu, informasi yang dihasilkan harus sesuai dengan kondisi organisasi yang sebenarnya. Menurut Ball and Brown (1968) dalam Hoesada (2008), informasi yang dihasilkan laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan disamping yang berasal dari sumber lain, baik informasi keuangan dan non keuangan, dan hal ini telah banyak dibuktikan secara alamiah walaupun informasi dalam laporan keuangan (hanya) berisi kejadian atau peristiwa yang telah terjadi (post information), karena laporan keuangan berdaya prediksi. Dengan demikian laporan keuangan yang disajikan oleh suatu organisasi harus dapat dipahami, relevan, dan dapat diandalkan, serta dapat dibandingkan, agar berguna bagi pembuat keputusan atau pengguna laporan keuangan tersebut. Berdasarkan pengadopsian maka jelas akan ada perbedaan antara IFRS, U.S. GAAP dan PSAK. Akan tetapi untuk PSAK yang berlaku per 1 Januari 2008 tidak ada perbedaan dengan IFRS karena PSAK mengadopsi IFRS secara penuh, akan tetapi antara IFRS, PSAK dengan U.S. GAAP akan ada perbedaan. Penulis hanya akan membahas mengenai perbedaan antara IFRS, U.S. GAAP dan PSAK dalam hal properti investasi (Investment Property), khususnya mengenai perbedaan IFRS, U.S. GAAP dan PSAK dalam hal penyajian (presentation), pengakuan (recognition), pengukuran (measurement), dan pengungkapannya (disclosure). Metode yang digunakan adalah kualitatif. metode penyusutan yang digunakan; masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan; jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (agregat dengan akumulasi rugi penurunan nilai) pada awal dan akhir periode; rekonsiliasi jumlah tercatat properti investasi pada awal dan akhir periode yang menunjukkan penambahan-penambahan, pelepasan-pelepasan, penyusutan, jumlah dan rugi penurunan nilai yang diakui dan jumlah pemulihan rugi penurunan nilai selama satu periode, perbedaan nilai tukar neto, transfer ke dan dari persediaan dan properti yang digunakan sendiri, dan perubahan lain; serta nilai wajar properti investasi, jika nilai wajar dari properti investasi tidak dapat diukur secara andal, tambahan pengungkapan diperlukan, termasuk jika mungkin kisaran estimasi dimana nilai wajar kemungkinan besar berada. Berdasarkan uraian pembahasan diatas dapat terlihat perbedaan antara IFRS, U.S. GAAP dan PSAK dalam hal properti investasi, mulai dari penyajian (presentation), pengakuan (recognition), pengukuran (measurement), dan pengungkapannya (disclosure). Maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara IFRS, U.S. GAAP dan PSAK dalam hal properti investasi, mulai dari penyajian (presentation), pengakuan (recognition), pengukuran (measurement), dan pengungkapannya (disclosure).

Ø  Jurnal Akuntansi Vol.2 No.1 Mei 2010: 59-69, Dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi – Universitas Kristen Maranatha.

Tulisan Ini Adalah Salah Satu Bentuk Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Internasional

Nama        : Saraswati Diana
Dosen       : Jessica Barus, S.E., Mmsi.

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI



Analisis Jurnal 1

Analisis Jurnal 1
Topik/Tema                 : IFRS dan Relevansi
Judul                           : Adopsi IFRS dan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi
Nama Penulis/Peneliti : Nur Cahyonowati & Dwi Ratmono
Ringkasan                   :
high-quality global accounting standards dalam rangka menyediakan informasi keuangan yang berkualitas di pasar modal internasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, IASC dan IASB telah menerbitkan principles-based standards yang disebut sebagai International Financial Reporting Standards (IFRS) dan sebelumnya International Accounting Standards (IAS). Kewajiban untuk menggunakan IFRS bagi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa efek (listed companies) merupakan salah satu perubahan paling signifikan dalam sejarah regulasi akuntansi (Daske dkk., 2008). Telah lebih dari 100 negara mengadopsi IFRS. Regulator berharap bahwa penggunaan IFRS dapat meningkatkan komparabilitas laporan keuangan, meningkatkan transparansi perusahaan dan kualitas pelaporan keuangan sehingga menguntungkan investor. Indonesia telah melakukan adopsi penuh IFRS mulai 1 Januari 2012. Namun penerapan IFRS telah dimulai secara bertahap dengan penerapan 19 PSAK dan 7 ISAK baru yang telah mengadopsi IAS/IFRS mulai 1 Januari tahun 2010.2 Konvergensi IFRS ini merupakan salah satu kesepakatan pemerintah Indonesia sebagai anggota forum G-20. Seperti di negara-negara lain, masih menjadi perdebatan dan pertanyaan penelitian penting apakah penerapan IFRS di Indonesia dapat meningkatkan kualitas informasi akuntansi. Populasi penelitian adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2008-2011. Perusahaan publik yang terdaftar di BEI dipilih karena merupakan entitas dengan akuntanbilitas signifikan yang diwajibankan menggunakan PSAK-IFRS dalam penyusunan laporan keuangan mulai tahun 2010. Sampel akhir dipilih dengan teknik purposive sampling dengan kriteria:
a. Perusahaan tersebut mempublikasikan data laporan keuangan secara konsisten selama tahun 2008-2011;
b. Perusahaan tersebut melakukan initial public offering (IPO) sebelum tahun 2008; dan
c. Tersedia data-data lain yang diperlukan seperti data harga saham, jumlah lembar saham biasa.
Data dikumpulkan dari berbagai sumber yang saling melengkapi seperti laporan keuangan perusahaan, IDX Fact Book, ICMD, dan harga saham bulanan dari website BEI. Bagian ini menguraikan hasil pengujian perbedaan relevansi nilai informasi akuntansi sebelum dan sesudah adopsi IFRS. Pada bagian pertama diuraikan prosedur pemilihan sampel dan jumlah sampel akhir untuk pengujian relevansi nilai. Bagian selanjutnya adalah statistik deskriptif dan matriks korelasi antarvariabel. Bagian selanjutnya adalah hasil pengujian hipotesis dan analisis tambahan (additional analysis). Temuan penelitian ini mendukung hipotesis bahwa lingkungan institusional yang masih belum mendukung dapat menyebabkan adopsi IFRS tidak mempengaruhi kualitas informasi akuntansi. Temuan ini penelitian mendukung argumentasi Karampinis dan Hevas (2011) bahwa di negara-negara code law (termasuk Indonesia), dengan karakteristik lingkungan institusional seperti perlindungan investor yang lemah, kurangnya penegakan hukum, kepemilikan terkonsentrasi, dan pendanaan yang berorientasi pada perbankan maka adopsi IFRS belum tentu dapat meningkatkan relevansi nilai informasi akuntansi. Temuan penelitian ini juga mendukung argumentasi Barth dkk. (2008) bahwa pengaruh adopsi IFRS terhadap relevansi nilai informasi akuntansi merupakan fungsi dari country-specific factors.

Ø  JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN, VOL. 14, NO. 2, NOVEMBER 2012: 105-115, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Tulisan Ini Adalah Salah Satu Bentuk Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Internasional

Nama        : Saraswati Diana
Dosen       : Jessica Barus, S.E., Mmsi.

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS EKONOMI